Materialisme bersandar pada anggapan bahwa segala sesuatu yang ada adalah materi. Menurut filsafat ini, materi telah ada semenjak keabadian, akan terus ada selamanya, dan tidak ada selain materi. Dalam rangka mendukung klaim mereka, para materialis menggunakan sebuah logika yang disebut “reduksionisme”. Reduksionisme adalah gagasan bahwa benda yang tidak teramati seperti materi juga dapat dijelaskan dengan penyebab yang bersifat materi.

Dalam sebuah buku yang berjudul “The system of Nature Or,the laws of the Moral and Physical World’’ (Systeme de la Nature ou Des Loix du Monde Physique et du Monde Moral) ,Filsuf asal prancis,Paul Hendry Thiry alias Baron d’Holbch,adalah buku pertama dalam filsafat modern dimana sang penulis, menggambarkan sebuah alam semesta dengan prinsip prinsip materialisme yang begitu ketat  dimana pikiran hanya diidentifikasikan sebagai otak,tidak ada ‘’jiwa’’ tanpa Tubuh yang hidup dalam pengertian biologis,dunia diatur oleh hukum determinisme,sehingga kebebasan kehendak tak lebih dari ilusi,tidak ada penyebab awal maupun akhir dan apapun yang telah tercipta di alam semesta adalah suatu keharusan yang tak terelakan.yang paling controversial dari semuanya adalah penyangkalannya terhadap existensi Tuhan sebagai sang maha pencipta , dengan alasan yang cukup sederhana,mengartikan bahwa kepercayaan terhadap entitas yang lebih tinggi adalah produk rasa takut,kurangnya pemahaman dan antropomorfisme.

Buku ini ditulis Semasa hidup baron yaitu antara tahun 1723-1789 dan telah menjadi rujukan bagi para Atheist di seluruh dunia untuk materialisme,baron sendiri bukanlah seorang ilmuwan Namun sangat yakin penemuan penemuan ilmiah pada masanya adalah jawaban atas segala pertanyaan pertanyaan filosofisnya,yang kemudian dari itu,mengambil kesimpulan.misalnya experiment john Needham Turberville(1713-1781) Tentang generasi spontan,pada waktu itu Needham melakukan experiment dengan menempatkan kaldu di dalam sebuah wadah yang disegel dan beberapa hari kemudian ia mendapati mikroba muncul di sana sehingga ia menarik kesimpulan bahwa pembentukan organism bisa muncul tanpa diturunkan oleh organism yang sama,atau bisa muncul dari benda mati. Inilah yang kemudian menjadi rujukan Baron dalam menulis bukunya tersebut sebagai bukti bahwa kehidupan bisa saja muncul atau berkembang mandiri tanpa campur tangan Tuhan. Entah apa yang dipikirkannya waktu itu sehingga ia lupa,ia mungkin khilaf bahwa yang namanya teori ilmu penengetahuan itu bisa saja salah  dikemudian hari. Benar saja,beberapa Tahun kemudian Neetham kemudian ditantang ulang oleh Ilmuwan lain yang bernama Lazzaro Spallananzani,seorang ilmuwan italia,dengan teknik yang sedikit berbeda((mendidihkan kaldu lebih lama)) dan hasilnya ia tidak menemukan mikroba tumbuh di kaldunya yang kemudian menendang jauh teori generasi spontan Neetham. Lalu bagaimana dengan nasip Baron d’holbach yang telah terlanjur menggunakan penemuan neetham sebagai dasar argumennya? Bagiamana juga nasip orang orang yang terinspirasi pemikiran baron d’holbach berdasarkan bukunya tersebut?seperti bagaimana pengaruhnya dalam materialism historis dari karl marx yang mempelajari ide ide D’holbach.

Ini hanyalah satu contoh bagaimana kemudian baron d’holbach mengambil kesimpulan secara gegabah dari teori ilmu penegahuan yang belum matang,berikutnya akan dipaparkan point point filsafat meterialisme baron d’holbach yang lain yang juga didasari teori ilmu pengetahuan pada masanya,menjadi  salah oleh teori ilmu pengetahuan yang lain yang lebih valid,penemuan penemuan yang baru ada setelah Baron d’holbach  telah berakhir dengan pemikirannya,Berikut ….

  • Benarkah alam semesta bersifat Deterministik.?

Bagi yang belum mengerti apa yang dimaksud dengan deterministic,secara sederhana adalah gagasan dari filosofis yang menyatakan bahwa ‘’Semua hal yang terjadi di dunia diatur berdasarkan hukum ilmu pengetahuan dan bersifat pasti.’’ Bagi yang menganut pemahaman ini,mereka biasanya menganalogikan alam semesta sebagai sebuah jam raksasa,dimana setiap gerakanya dapat terprediksi.

Determinisme Ilmiah dan Prinsip Ketidakpastian Heisenberg.

Heisenberg “Prinsip Ketidakpastian” meberikan pukulan telak pada deterministik ilmu pengetahuan,yang berketergantungan pada akurasi, presisi, dan kepastian mutlak.

Dalam sejarah ilmu pengetahuan, teori gravitasi Newton menawarkan penjelasan rinci tentang proses fisik yang beragam. Ini memberikan pandangan mekanis tentang alam semesta, Ilmuwan prancis Marquis Pierre-Simon laplace pada abad kesembilan belas,sebagiamana baron d’Holbach dalam filsafat materialismenya yang juga sangat dipengaruhi oleh interprestasi teori newton ; Hukum deterministic gerak, mengklaim bahwa hukum Newton telah menunjukkan bahwa alam semesta itu sepenuhnya deterministik. Laplace sebgai salah satu pengawang determinisme abad pertengahan percaya bahwa hanya dengan satu set hukum ilmiah yang tersedia,seseorang akan mampu memprediksi segala sesuatu yang terjadi di alam semesta. Laplace memperluas hukum Newton dengan tidak membatasi mereka hanya untuk fenomena fisik tetapi untuk perilaku manusia juga.

Sepanjang sejarah, banyak yang merasa bertentangan dengan konsep determinisme ilmiah yang ketat karena tidak hanya merusak kebebasan manusia dan kehendak bebas, tetapi juga telah membatasi kekuasaan Tuhan,. Dengan demikian, Tuhan tidak akan bebas mengintervensi apa yang terjadi di alam semasta dan manusia. Dalam berbagai kasus, keyakinan ini telah menciptakan kesenjangan yang meningkat antara domain ilmu pengetahuan dan agama.

Sampai ketika Ilmuwan asal jerman,warner Heisenberg,menantang determinisme ilmiah dengan konsep prinsip ketidakpastian,sebuah prinsip fisika quantum yang kemudian menjadi salah satu pilar fisika modern.  Dalam teori kuantum, menjadi sulit untuk benar benar bisa memprediksi posisi dan pergerakan partikel pada waktu yang sama. Ketika seseorang mencoba untuk mengukur posisi partikel yang diberikan menjadi lebih sulit untuk mengukur kecepatan, dan sebaliknya.”ketidakpastian” tertentu juga berlaku  dalam massa dan  kecepatan partikel, sering disebut oleh para ilmuwan sebagai konstanta Planck.

Temuan ini memiliki dampak yang signifikan dalam paradigma seseorang tentang dunia. Ini menegasikan upaya Laplace untuk teori deterministik holistik karena salah satu yang tidak akan dapat benar-benar memprediksi kejadian masa depan jika seseorang tak memiliki kemampuan untuk “mengukur keadaan alam semesta sekarang ini” secara akurat. Temuan ini kemudian menimbulkan masalah serius dalam konsepsi ilmiah sebelumnya dipegang tentang alam semesta,yaitu determinisme ilmiah yang diakui puluhan tahun sebelumnya.

‘’It is immposible to trab modern physics into predicting anything with perfect determinism because it deals with probabilities from the outset’’ (Artur Edington)

  • Apakah semua yang ada hanya bersifat materi?

 

‘’Kalangan ahli biologi evolusionis hingga kini tidak menyadari bahwa mereka bekerja dengan dua bidang yang sedikit banyak berbeda: yakni bidang informasi dan bidang materi… Dua bidang ini tidak akan pernah bertemu pada satu pengertian yang biasanya disebut dengan istilah “reduksionisme” …Gen adalah satu paket informasi, dan bukan sebuah benda.. . Dalam biologi, ketika anda berbicara tentang masalah-masalah seperti gen, genotip dan perbendaharaan gen (gene pools), anda berbicara tentang informasi, bukan realitas fisik kebendaannya… Kurangnya kata-kata yang sama dan semakna yang dapat digunakan untuk menjelaskan keduanya ini menjadikan materi dan informasi berada pada dunia yang berbeda, yang harus dibahas secara terpisah, dan dengan menggunakan istilah mereka masing-masing’’.( George C. Williams)

Bersama dengan kemajuan dalam bidang genetika,ini dapat di jelaskan melalui sebuah contoh, yakni DNA. Semua sel hidup berfungsi berdasarkan informasi genetis yang terkodekan pada struktur rantai heliks ganda DNA. Tubuh kita juga tersusun atas trilyunan sel yang masing-masingnya memiliki DNA tersendiri, dan semua fungsi tubuh kita terekam dalam molekul raksasa ini. Sel-sel kita menggunakan kode-kode protein yang tertuliskan pada DNA untuk memproduksi protein-protein baru. Informasi yang dimiliki DNA kita sungguh berkapasitas sangat besar sehingga jika anda ingin menuliskannya, maka ini akan memakan tempat 900 jilid ensiklopedia, dari halaman awal hingga akhir!

Pada titik ini, mari kita pikirkan klaim materialisme: Mungkinkah bahwa informasi dalam DNA direduksi menjadi materi sebagai materialis katakan? Atau, dengan kata lain, dapatkah diterima bahwa DNA hanyalah setumpuk materi dan informasi yang dikandungnya muncul sebagai interaksi materi yang acak?

Semua penelitian ilmiah, percobaan dan pengamatan yang dilakukan pada abad ke-20 menunjukkan bahwa pertanyaan ini pasti harus dijawab dengan “tidak”. Direktur Fisika dan Teknologi Federal Jerman Institute, Prof Dr Werner Gitt  mengatakan sebagaiamana berhubungan dengan masalah ini:

‘’Sebuah sistem pengkodean selalu memerlukan proses intelektual nonmateri. Sebuah materi fisik tidak dapat menghasilkan kode informasi. Semua percobaan menunjukkan bahwa setiap potongan informasi kreatif mewakili sebentuk upaya mental dan dapat ditelusuri ke pemberi ide-pribadi yang menggunakan kehendak bebasnya sendiri, dan yang diberkahi dengan pikiran yang cerdas …. Tidak ada hukum alam yang diketahui, tidak ada proses yang dikenal dan tidak dikenal urutan peristiwa yang dapat menyebabkan informasi muncul dengan sendirinya pada materi ‘’

Kata-kata Werner Gitt tersenut merupakan kesimpulan dari “Teori Informasi”, yang berkembang pada 20-30 tahun terakhir dan diterima sebagai bagian dari termodinamika. Teori Informasi menyelidiki asal usul dan sifat informasi di alam semesta. Kesimpulan yang dicapai oleh para ahli teori informasi sebagai hasil dari penelitian panjang mereka adalah bahwa “Informasi adalah sesuatu yang berbeda dari materi dan itu tidak pernah dapat direduksi menjadi materi.. Asal dari materi dan informasi fisik harus diselidiki secara terpisah.”

Misalnya, mari kita pikirkan sumber dari sebuah buku. Sebuah buku terbuat dari kertas, tinta, dan informasi yang dikandungnya. Kertas dan tinta adalah unsur materi. Sumber mereka adalah juga materi: Kertas terbuat dari selulosa, dan tinta terbuat dari bahan kimia tertentu. Namun, informasi di dalam buku adalah nonmateri dan tidak dapat memiliki sumber materi. Sumber informasi di dalam setiap buku, adalah pikiran dari penulis yang menulis buku itu.sehingga ketika seseorang membaca buku tersebut,apa yang terekam di pikiran oleh setiap pembaca ialah informasi yang terdapat pada buku tersebut,bukan tinta atau bukunya yang masuk ke dalam otak pembaca.


Apakah mungkin untuk percaya bahwa “kebetulan” dan “kondisi yang bersifat alamiah” dapat menghasilkan sebuah rumah dengan semua bahan yang telah tersusun secara sempurna?
Siapapun yang berakal sehat akan tahu bahwa rumah seperti ini adalah produk dari desain sadar, dan bukan kejadian kebetulan. Selalu ada desainer dan informasi yaitu ‘’bagaimana cara membangun rumah’’ bukan?. Tidak diragukan lagi, desain dalam hidup adalah terbandingkan lebih unggul dengan desain rumah.

Selain itu, pikiran ini menentukan bagaimana kertas dan tinta akan digunakan. Sebuah buku awalnya terbentuk di dalam pikiran penulis yang menulis buku itu. Penulis membangun rantai logika dalam pikirannya, dan garis atas kalimat. Sebagai langkah kedua, dia mewujudkannya ke dalam bentuk materi, yang berarti bahwa ia menuangkan informasi di dalam pikirannya ke dalam huruf-huruf dengan menggunakan pulpen atau komputer. Kemudian, huruf-huruf ini dicetak di sebuah rumah percetakan-dan mengambil bentuk sebuah buku terdiri dari kertas dan tinta.

Kemudian kita bisa berakhir dengan kesimpulan umum sebagai berikut: “Jika materi fisik mengandung informasi, maka materi itu seharusnya telah dirancang oleh sebuah pikiran yang memiliki informasi  Pertama dan ada pikiran Pikiran yang menuangkan informasi di dalamnya.. menjadi materi dan kemudian ada desain. “

Analogi lain dalam hal ini misalnya seperti diungkapkan oleh Stephen C. Meyer, seorang filsuf ilmu pengetahuan dari Cambridge University ,mengatakan dalam sebuah wawancara:

‘’Satu hal yang saya lakukan di perkuliahan untuk memahamkan gagasan ini kepada para mahasiswa adalah: saya pegang dua disket komputer. Satu disket ini berisikan software (=informasi), sedangkan yang satunya lagi kosong. Lalu saya bertanya, “Apakah perbedaan berat di antara dua disket komputer ini akibat perbedaan isi informasi yang mereka punyai?” Dan tentu saja jawabannya adalah nol, tidak berbeda, tidak ada perbedaan akibat keberadaan informasi di salah satu disket. Hal ini dikarenakan informasi adalah kuantitas yang tidak memiliki berat. Informasi bukanlah suatu keberadaan materi.’’

Dari kedua penjelasan modern dari dua point pertanyaan kristis dia atas,yaitu antara alam semesta yang pada hakikatnya bersifat probabilistik(pada tingkat quantum) dan melihat bagaimana alam semesta pada tingkat makro dapat memiliki keteraturan yang begitu sempurna sehingga menampakaan seakan akan ia deterministik.Logika dari manusia macam apa yang kemudian masih mengatakan bahwa ‘’Tidak ADA existensi non-material(sebagai kesadaran univerersal) di alam semesta”?dimana kesadaran non material itu kemudian terus menyusun alam semesta sampai seperti sekarang ini,menimbulkan efek yang kita kenal sebagai ‘’waktu’’ yang berjalan.

 

Penutup

Semua telah jelas menggambarkan bagaimana Filsafat materialisme,Tidak bertahan lama dalam kejayaanya bersama ilmu penegetahuan di era pertengahan,begitupun dengan Baron D’Holbach dan para Tokoh Tokoh Materialistis lainya,Inilah Keruntuhan Filsafat materialism..

————————————————————————————————-

*Dari berbagai sumber oleh mueeza.

About these ads