Telah dimaklumi bahwa pemikiran filsafat produk barat begitu “berhasil” mempengaruhi dunia sorban. Kendati demikian, para filsuf muslim tentunya tidak begitu saja menerima hasil “ijtihat” para filsuf barat, tanpa dengan pagar paradigma pribadi (yang tentunya lebih islami). Melalui proses pemikiran yang panjang, dengan pengolahan interpretasi secara matang.

Setelah dunia islam -juga- berhasil memunculkan tokoh-tokoh filsuf terkemuka, dan mereka menuangkan ekspresi pemikiran itu di beberapa kitab, maka menjadi jelaslah letak perbedaan gaya filofistik antar ulama. Karena memang, kebebasan berfikir menjadi suatu hal yang lumrah dikala itu (tidak seperti zaman sekarang). Sehingga jika terjadi suatu pertentangan atau bahkan perdebatan dikalangan pemikir, itu menjadi hal yang wajar. Semua itu demi membentuk pondasi awal yang ditetapkan sebelum melangkah lebih besar ke tahap pembelajaran selanjutnya.

Salah satu bentuk pertentangan di dunia filsuf muslim adalah pertentangantinta antara filsuf ibnu Sina dan teologi al-Ghazali yang menjadi pengaruh besar bagi generasi setelahnya, bahkan dikalangan pemikir barat.

Ibnu Sina (yang juga sangat dikenal di dunia kedokteran) mendapat pencerahan tentang pelajaran filsafat terutama dari ajaran Aristoteles. Tetapi saat itu ibnu Sina kurang begitu menangkap makna dari ajaran filsuf barat itu. Kemudian, setelah ibnu Sina membaca kitab Agradhu kitab ma waraid tabi’at li li Aristho karangan al-Farabi, ia mulai mendapat penjelasan dan jawaban-jawaban yang ia cari. Maka al-Farabi juga sebagai guru dari ibnu Sina, yang tentunya sama-sama “mengidolakan” Aristoteles.

Secara ringkas, filsafat ibnu Sina terbagi menjadi tiga bagian; filsafat jiwa, filsafat wujud, dan filsafat wahyu dan Nabi. Seperti halnya al-Farabi, ibnu Sina menyetujui adanya konsep Emanasi (al-faidh), yang telah diperkenalkan oleh Aristoteles. Yaitu paham pancaran, yang bersumber dari satu titik, yaitu Tuhan. Tuhan sebagai satu-satunyan yang berwujud memancarkan kepada selainNya, sehingga selainNya menjadi berwujud. Dalam arti bahwa, wujud Tuhan melimpahkan wujud alam semesta.

Menurut ibnu Sina, tidak ada sifat banyak dari Tuhan. Tuhan tidak berhubungan/langsung menangani alam yang mempunyai banyak unsur ini. Tuhan terlalu “rendah” jika harus pula mengurusi hal-hal yang remeh, yang sebenarnya bisa ditangani oleh pihak yang sebagai pancaranNya. Karena jika hal itu terjadi, maka dalam pemikiran Tuhan terdapat banyak pikiran. Maka akan merusak Tauhid. Menurutnya, Allah-lah dzat yang memberikan wujud kekal pada segala yang ada. Tuhan berpikir tentang diriNya, itulah ilmu Tuhan, yang berposisi sebagai hakikat ilmu, yang kemudian menciptakan akal pertama (malaikat tertinggi). Kemudian akal pertama itulah yang memunculkan akal kedua, hingga akal ke sepuluh (jibril), yang mengatur bumi.

Ini artinya, setiap akal dapat menjadi “hidup sendiri”, terlepas dari Tuhan. Tuhan hanya sebatas mengetahuinya. Maka menurut ibnu Sina, akal pertama (dan seterusnya) mempunyai dua sifat; sifat wajib wujudnya, sebagai pancaran dari Allah (yang juga berwujud wajib), dan sifat mungkin wujudnya, jika ditinjau dari hakikat dirinya (karena dirinya bukan Tuhan).

Al-Ghazali mengkritik keras hasil interpretasi ibnu Sina itu. Menurut al-Ghazali, ada 12 poin yang muncul dari filsafat ibnu Sina, yang dapat mengarah pada kekafiran, yaitu: alam yang qadim (tidak bermula), alam kekal (tidak berakhir), Tuhan tidak mempunyai sifat, Tuhan tidak diberi sifat jenis (al-jins) dan diferensia (al-fashl), Tuhan tidak punya hakikat (mahiyah), Tuhan tidak mempunyai juz’iyat (perincian yang ada di alam), planet-planet bergerak dengan kemauannya sendiri, jiwa-jiwa planet mengetahui juz’iyat, hukum alam tidak berubah, jiwa manusia adalah substansi yang berdiri sendiri, mustahilnya kehancuiran jiwa manusia, dan tidak adanya pembangkitan jasmani dari kubur.

“kegeraman”nya itu ia tuangkan dalam kitabnya, tahafut al-Falasifah (kekacauan para filsuf), tanggapan al-Ghazali terhadap para filsuf (termasuk ibnu Sina). Ia berpendapat bahwa yang qadim hanyalah Allah. Karena jika selainNya juga qadim maka akan menyebabkan dua hal:

1.Akan banyak hal yang Qadim. Dan itu jelas syirik besar yang tak terampuni.

2.Atheisme, alam yang qadim tidak memerlukan penciptanya.

Melihat cara berfikir al-Ghazali, ia lebih tepat disebut sebagai teolog, bukan filsuf. Dan memang antara kaum filsuf dan kaum teolog terdapat perbedaan mendasar mengenai arti dari al-ihdats dan Qadim. Bagi kaum teolog, al-ihdats berarti mencipktakan dari “tidak ada” (creatio ex nihilo). Sedangkan bagimkaum filsuf, betrarti menciptakan deri “ada”.

Pertentangan dari al-Ghazali terhadap ibnu Sina ini ramai diperbincangknpemikir setelahnya. Sayangnya, perdebatan itu hanya terjadi melalui tinta. Ibnu Sina tidak sempat bertemu dengan al-Ghazali karena perbedaan zaman. Padahal sangat kita harapkan ibnu Sina dapat memberi jawaban atas kritikan-kritikan dari al-Ghazali itu. Tapi walau demikian, kemudian muncul seorang pemikir yang berani mengkritik balik pendapat al-Ghazali. Dia dikenal dengan nama ibnu Rusyd, yang menulis kitab Tahafut tahafut al-Falasifah (kekacauan kitab tahafut al-Falasifah). Karena hal ini, perdebatan tetap berjalan panjang, bahkan hingga saat ini.