Image

Apa itu “realitas”, dan bagaimana kita mengartikannya? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terdengar berlebihan karena tampaknya semua orang tahu apa itu realitas. Realitas adalah apa yang saya lihat, dinding di sekitar saya, rumah, orang, alam semesta, realitas adalah apa yang bisa kita sentuh dan rasakan, apa yang kita dengar, rasa, dan cium. kita tau Ini semua realitas .

Namun,lebih dari itu kita juga harus tau bahwa harus ada lebih banyak realitas lagi dari yang hanya sekedar kita lihat dengan mata, kita dengar dengan telinga, dan cium dengan hidung.

Sepanjang sejarah, pemikir pemikir terbesar banyak yang telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk topik ini. Seiring waktu,pendekatan sains untuk bagaimana kita memandang realitas telah melalui beberapa transformasi.

Pendekatan klasik, dimana pendukung utamanya adalah Sir Isaac Newton, menyatakan bahwa dunia ada secara independen, terlepas dari manusia.

Tidak ada bedanya apakah seseorang mempersepsikan dunia atau tidak, atau jika ada orang yang hidup di dunia atau tidak. Dunia akan tetap ada dan bentuknya akan tetap seperti adanya.

Dalam waktu, seiring perkembangan ilmu pengetahan, telah sampai pada bagaimana kita mampu melihat image dunia tidak hanya sekedar melalui mata atau indra kita sendiri sebagai manusia, tapi juga melalui indera makhluk lain selain manusia. apakah sama? dan Para ilmuwan mengetahui bahwa makhluk lain memandang dunia dengan cara yang berbeda. Misalnya,lebah,image bagi lebah adalah jumlah dari semua pemandangan yang dirasakan dalam masing masing lensa mata-nya yang sangat banyak, atau Seekor anjing memandang dunia terutama sebagai ” bau-bauan” dsb semua memandang dunia dengan pemandangan yang berbeda beda.. dan manusia dengan sombongnya berkata bahwa apa yang ia lihat-lah yang terbenar? kita tau bahwa itu kini menjadi tampak konyol.

Selain itu, Albert Einstein menemukan bahwa mengubah kecepatan pengamat (atau obyek yang diteliti), menghasilkan visi yang sama sekali
berbeda dari realitas pada sumbu ruang waktu, Sebagai contoh, mari kita asumsikan ada anak panah yang bergerak dengan cepat dalam ruang. Menurut Newton, terlepas dari kecepatan, anak panah akan muncul untuk memiliki panjang yang sama di mata pengamat. Menurut Einstein, bagaimanapun juga, Anak panah akan tampaknya menyusut/memendek dengan meningkatnya kecepatan di mata pengamat.

Sebagai hasil dari kedua penemuan,pendekatan yang lebih progresif dibentuk dan mulai dikembangkan, dengan alasan bahwa gambaran atau image dunia tergantung pada pengamat. Pengamat dengan sifat yang berbeda dan indera yang berbeda pula akan mengalami pengalaman dunia yang berbeda.Demikian pula, pengamat di berbagai entitas bergerak akan melihat image yang berbeda.

Pada 1930, fisika kuantum merevolusi dunia ilmu pengetahuan. telah dapat.berkesimpulan bahwa pengamat dapat mempengaruhi peristiwa yang diamati.
Oleh karena itu, satu-satunya pertanyaan yang patut ditanyakan adalah, “Apa itu meteri?” Tidak ada gunanya mencoba untuk penelitian proses objektif yang terjadi, atau mencoba untuk menemukan apa realitas obyektif dalam pengertian yang sesungguhnya.

Penemuan dalam fisika kuantum, bersama-sama dengan penemuan di bidang-bidang penelitian lainya,dikombinasikan untuk membentuk pendekatan ilmiah kontemporer tentang bagaimana kita memandang realitas: pengamat mempengaruhi dunia, dan dengan demikian mempengaruhi image yang di rasakan. Dengan kata lain, image dunia adalah kombinasi dari atribut dari pengamat dan atribut dari objek yang diamati.