mata

kita memperhatikan lingkungan sekitar kita melalui berbagai tingkat kesadaran. Pada tingkat yang paling dasar, ada yang disebut sebagai persepsi neurologis, itu adalah cara cara kita melihat hal-hal berbasis sensorik dimana Tingkat persepsi didasarkan pada fungsi reseptor di Tubuh kita yaitu yang terdapat indra indra kita,sepeti mata, telinga, kulit, hidung, lidah dan mulut, dll). Jika ada kerusakan di jaringan reseptor ini maka efeknya adalah kemampuan kita untuk mengambil informasi dari manifestasi energi di dunia akan terpengaruh, kadang-kadang benar benar terputus sehingga kita tidak dapat mengalami pengalaman apapun melalui suatu indra yang rusak tersebut.

Di sini juga akan selalu ada beberapa variasi atau perbedaan antara individu yang satu dan yang lainya secara neurologis entah Dalam hal visual, auditori, kinestetik taktil, propreceptic, penciuman, dan informasi gustatory. karna Apa yang kita dapati dari segala sesuatu dalam realitas sangat tergantung pada peralatan saraf kita. ambil satu contoh, yaitu Warna,dimana Warna sebagai pengalaman visual kita. Namun Warna seperti tidak ada “di luar sana” , itu adalah fungsi dari batang dan kerucut di mata kita. Dalam hal ini, kita melihat warna sebagai batang dan kerucut dimana otak secara otomatis memetakan perbedaan dalam refleksi atau penyerapan cahaya dalam spektrum elektromagnetik. seorang yang buta warna tentu akan melihat warna yang berbeda pada objek yang sama terhadap orang yang memiliki mata normal.

Untuk lebih memperjelas Perbedaan Subjektif terhadap relitas yang mungkin terjadi hanya melalui faktor persepsi neurologi, ialah Pada suatu syndrom yang bernama agnosia,orang yang mengalami agnosia akan mengalami suatu pengalaman sensorik dimana Benda benda di sekitarnya tampak aneh, seperti dapat berbicara atau melayang layang, Agnosia adalah kegagalan mengenali suatu objek
karena ketidakmampuan mengartikan stimulus sensorik yang datang dan disfungsi beberapa area pemroses visual otak. .

Apakah hal ini membuktikan bahwa “persepsi adalah proyeksi?”

Itu fakta ilmu saraf bahwa segala sesuatu yang kita alami sebenarnya adalah bagian dari imajinasi kita.Meskipun perasaan kita merasa akurat dan benar, mereka tidak selalu mereproduksi realitas fisik dari dunia luar. Tentu saja, banyak pengalaman dalam kehidupan sehari-hari yang mencerminkan rangsangan fisik yang masuk ke otak. Tapi mesin saraf yang sama yang menafsirkan masukan sensorik yang sebenarnya juga bertanggung jawab untuk impian kita,delusi dan kegagalan memori. Dengan kata lain, sumber fisik yang nyata itu adalah tak lebih dari bayangan yang Dibayangkan otak kita, seperti yang pernah diungkapkan oleh Socrates: “Yang saya tau adalah bahwa saya tidak tau .” Salah satu alat yang paling penting yang digunakan oleh para ahli saraf untuk memahami bagaimana otak menciptakan arti bagi realitas. sedangkan Dari segi sejarah,pada dasarnya seniman visual serta ilusionis telah memperdalam wawasan mereka menyangkut sistem visual manusia. itu Jauh sebelum para ilmuwan sedang mempelajari sifat-sifat neuron, seniman telah menyusun serangkaian teknik atau “trik” untuk memanifulasi
otak agar berpikir bahwa sebuah kanvas datar dapat menjadi tampak tiga dimensi, atau bahwa serangkaian sapuan kuas menjadi objek yang hidup.
Ilusi visual didefinisikan oleh pemisahan antara realitas fisik dan persepsi subjektif dari suatu obyek atau peristiwa. Ketika kita mengalami ilusi visual, kita dapat melihat sesuatu yang tidak ada, atau gagal untuk melihat sesuatu yang ada, atau bahkan melihat sesuatu yang berbeda dari apa yang ada. Karena memutuskan antara persepsi dan realitas, ilusi visual menunjukkan cara di mana otak dapat gagal untuk menciptakan dunia fisik. Dengan mempelajari kegagalan tersebut, kita bisa belajar tentang metode komputasi yang digunakan oleh otak untuk membangun pengalaman visual.