oleh Mueeza Of’Vivosterra (Catatan) pada 11 Juni 2013 pukul 10:49

Menetapkan norma-norma yang dapat diterima semua orang dan standar perilaku yang konsisten telah menjadi bagian dari bagaimana manusia mencoba membangun hubungan sosial untuk Kebaikan bersama sejak awal waktu.Tanpa prinsip-prinsip etika dan kaidah moral yang mempengaruhi perilaku individu, manusia akan terjun ke dalam keadaan kekacauan dan ketidakpedulian, ketidakamanan, dan ketakutan tak berujung. Tetapi sementara beberapa pertanyaan perlunya bimbingan moral, semakin banyak orang percaya bahwa satu-satunya etika layak dipertimbangkan harus berdasar pada pondasi kitab suci. Apakah moralitas bergantung pada Tuhan dan “kebenaran” hanya dapat ditemukan dalam kitab suci? maka dengan demikian ketika ketika kitab suci ada lebih dari satu yang bisa dijadikan rujukan untuk tiap tiap orang ditambah lagi penafsiran yang bermacam macam pula,apakah ini tidak malah menjadi pemecah? apakah Harus klaim ini diterima tanpa pertanyaan atau kita harus menerima riseko masuk neraka hanya karna mempertanyakannya? Tanpa evaluasi kritis dan penelitian yang cermat, ada sedikit harapan kebenaran membedakan dari keyakinan yang berdasar standar apa yang bisa kita pakai untuk mengklaim bahwa sebuah kitab suci adalah sumber kebenaran etis yang dibutuhkan umat manusia? Apakah firman firman Tuhan benar-benar telah menjadi ilmu yang sempurna untuk membimbing umat manusia agar merasa aman menghadapi moralitas masyarakat modern? Haruskah kitab suci ditafsirkan sebagai satu-satunya dasar untuk ajaran moral? Apakah itu benar-benar bahwa otoritas final atas isu moral, atau ada alternatif sekuler yang dapat berfungsi sebagai panduan untuk perilaku yang dapat diterima dalam komunitas manusia?

Dengan begitu banyak pertanyaan ini, Sebenarnya ini bukanlah pertanyaan yang menjadi problematika yang baru kita temukan di era modern, tapi sejak zaman yunani kuno, kalo kita kembali ke masa lalu maka kita akan mendapati pertanyaan yang bahkan bagi filsuf dan teolog besar cukup membingungkan yaitu : “Apakah sesuatu yang baik diperintahkan para dewa karena hal itu baik, atau hal itu baik karena diperintahkan para dewa?” (” Is what is morally good commanded by gods because it is morally good, or is it morally good because it is commanded by gods? “). ini adalah pertanyaan yang Diajukan oleh socrates kepada authyphro of prospalta,seorang pemimpin agama paganistik (mantesin) pada masa yunani kuno sekitar tahun 5-6 SM, Yang kemudian diriwayatkan oleh plato dalam bukunya,Dialogues, dan menjadi terkenal dengan istilah “dilema authyphro” .

Dilema ini kemudian dimodifikasi untuk diterapkan pada teisme filosofis, di mana masih merupakan obyek diskusi teologis dan filosofis, terutama dalam tradisi Kristen, Yahudi, dan Islam. dari versi monoterisme pertanyaan sedikit berbeda dan berubah menjadi “Apakah sesuatu yang baik diperintahkan Tuhan karena hal itu baik, atau hal itu baik karena diperintahkan Tuhan?”

Memang,harus diakui bahwa Salah satu isu yang paling gigih dalam filsafat agama adalah bagaimana telah menjadi konsep yang terpaling mendasar tentang Tuhan selalu sejalan dengan kebenaran sehingga implikasi daripada itu pada manusia adalah “moral yang baik.” Sementara kita dan kebanyakan teis setuju bahwa Tuhan memiliki beberapa pengaruh pada standar kebaikan, Tetap ada dilematika mengenai sifat keterlibatannya dalam kebaikan itu. Konflik biasanya berjalan seperti ini : apakah dalam menetapkan standar moral , adalah Tuhan memperkuat fakta-fakta obyektif dari apa yang benar , fakta ditentukan melalui proses logika dan pengalaman ?atau dia menetapkan bawah standar kebenaran itu dari yang tidak perlu memiliki dasar logis atau intuitif bagi kita?

Jika jawaban itu adalah bahwa Kebenaran titetapkan oleh Tuhan melalui fakta fakta objektif maka selama ini moral yang benar adalah moral yang sifatnya, skeptik dan sekuleristik yang dengan-nya manusia menetapkan nilai baik melalui logika dan ilmu pengetahuan dan memisahkan diri daripada perintah Tuhan . dan jika jawaban itu adalah bahwa tuhan menetapkan standar kebenaran Tanpa harus Mengunkan logika atau intuitif kita, maka dengan demikian hanya firman firman Tuhan sajalah yang bisa membuat kita pada moral yang baik..dan inilah konfilik yang masih berlaku di tengah masyarakat hingga sekarang.

SOLUSI

Menginga bahwa dilema Euthyphro muncul di era yunani kino, banyak pemikir masyur dalam sejarah yang telah menawarkan solusi dengan argumentasi merka masing masing . Ada tiga posisi utama yg biasa diambil oleh para teolog . Solusi yang pertama untuk dilema ini,adalah sikap yang telah didukung oleh Aquinas, kaum Platonis Cambridge seperti Ralph Cudworth , dan beberapa filsuf modern seperti Richard Swinburne.Ada beberapa nuansa yang dapat mencirikan pendekatan tanduk pertama dalam mengatasi kesulitan yang melekat di dalamnya . Misalnya, filsuf Muslim Ibnu sina atau Averroes yang menawarkan analogi yang menunjukkan bagaimana moralitas objektif sebenarnya masih membutuhkan Tuhan. Bagi Averroes ,Tuhan dapat dibandingkan dengan dokter yang bertujuan ” untuk menjaga kesehatan dan menyembuhkan penyakit semua orang , dengan resep dan aturan yang dapat diterima secara umum . .. Dia tidak perlu membuat mereka semua menjadi dokter atau menjelaskan secara detail pada pasien, dokter adalah suatu profesi khusus untuk orang yang tahu tentang metode demonstratif dan hal -hal yang menjaga kesehatan dan menyembuhkan penyakit.

Analogi Averroes ini intinya. membantah klaim ateis pada masanya Tuhan tidak memerlukan moralitas objektif untuk mempertimbangkan apa yang diperintahkanya,karna bagi Ibnu sina Perintah Tuhan adalah sejalan dengan Moralitas objektif sebagai hasil daripada pemikiran manusia “Selama ” Hasil pemikiran manusia itu benar, bukan kesalahan aatau anggapan yang dianggap benar namun pada hakekatnya salah . Meskipun mungkin benar bahwa logika moral yang ada dan didapat secara teoritis ditentukan oleh proses alasan, tidak ada dasar untuk percaya bahwa kita akan dipaksa untuk sampai pada kebenaran moral melalui penalaran empiris , sebuah proses yang banyak filsuf percaya untuk menjadi sangat potensial untuk terseat . Pandangan ini didukung oleh filsuf asal inggris , G.E Moore, tentang” kesalahan naturalistik ” yang menyoroti tentang tidak dapat diandalkannya garis penalaran . Untuk meringkas, poin kesalahan naturalistik bahwa tidak mungkin untuk menarik klaim normatif dari sebuah pernyataan secara empiris ” ,. Hanya karena dunia adalah cara tertentu tidak berarti bahwa itu harus Tanpa gagasan dari Tuhan , kita tidak akan memiliki alasan untuk percaya bahwa kesimpulan logis kita tentang moralitas ada hubungannya dengan kebenaran isi moral mereka . Setelah semua, manusia sepanjang sejarah berbeda dan terus mengalami tranformasi pada isi moralitas yang dianggap benar , dan sejarah memberikan kita bukti bahwa dengan adanya kekurangan atau keterbatasan sebagai manusia telah menunjukkan berbagai macam kekeliruan akal manusia sehingga menimbulkan kekacauan. Karena logika sendiri tidak dapat menjamin atau diandalkan jika tujuan “mengapa harus berbuat baik” itu salah,maka dengan demikian Tuhan perlu bertindak seperti dokter yang sejalan dengan kesimpulan logis dari moralitas oleh pasien jika pasien itu Memahaminya dan hanya jika pasien tidak memahami apa penyakitnya yang kemudian akan membantah anjuran dokter, Jadi , untuk menjawab angapan ateis terhadap teis bahwa Tuhan ada di atas moralitas objektif , teis dapat menjawab bahwa Moralitas Tuhan masih perlu untuk memfungsikan moralitas objektif(melalui akal) sehingga manusia dapat menyesuaikan dengan keadaanya .

Jadi sampai sini,dalam Bermasyarakat menurut pandanga saya berdasatkan pendapat pendapat di atas bahwa Dalam menjalani perintah Tuhan, Interprestasi daripada printah Tuhan itulah yang mestinya sejalan dengan logika moralitas objektif manusia, Selebihnya,Tulisan ini mungkin tidak menyelesaikan semua pertanyaan di awal tadi, tapi mudah mudahkan ada sedikit memberikan kisi kisi untuk kita untuk menyelesaikan problematika sekulerisme dan fanatistik.
_