Stephen hawking menjadi begitu Terkenal di ranah akademik terutama ketika ia menerbitkan bukunya yang berjudul “The Grand Design” – apalagi ditambah dengan publisitas yang tinggi atas Kontroversi dari Buku dan pemikiranya yang kemudian menarik media untuk bersemangat mewawancarai-nya, Melalui sebuah wawancara ,dari situ bagaimana Hawking turut menginggung pula masalah filosofi yang dianggapnya sebagai praktek yang buang buang waktu. Lebih tepatnya, ia mengatakan bahwa “filsafat telah ‘mati’ ” karena tak bisa Bersaing dengan perkembangan terbaru dalam ilmu pengetahuan,terutama fisika teoritis. menurut hawking, jaman dulu filsuf tidak hanya mencoba untuk Menyelesaikan isu isu sosial,  tapi juga membuat kontribusi ilmiah yang signifikan. Namun sekarang berbeda,Filsuf  tidak memiliki pengaruh sama sekali, yang ada malah menjadi kendala untuk kemajuan ilmu pengetahuan,dengan bagaimana mereka ,melalui uraian uraian panjang dan diskusi atau bahkan perdebatan tak berujung tentang isu isu lama,entah itu tentang kebenaran, pengetahuan, masalah induksi dan sebagainya.tapi kemudian malah melupakan akan pentingnya kemajuan Iptek itu sendiri. dan Jika filsuf benar-benar ingin membuat kemajuan, menurut hawking,satu satunya cara adalah,  mereka harus meninggalkan kursi mereka dan argumen argumen Non empirik mereka, mulailah bijaksana untuk Bermatematika dan mendengarkan para ahli fisika seperti dirinya, yang bekerja dengan didanai oleh perusahaan multinasional dan pemerintah nasional untuk kemajuan.

Tapi,Haruskah kita percaya pernyataan ini hanya karena  keunggulan keungulan seperti yang Hawking lebih lebihkan? Mungkinkah bahwa beberapa kesalahan kategoris telah dilakukan oleh orang -orang seperti Hawking yang, menurut kami,kesalahan filsafat teologi? Para debater atas  Pernyataan “kematian filsafat” yang dimulai oleh Hawking tidak hanya bertumpu pada tempat yang salah, tetapi juga mencari solusi yang tidak memadai . Pertama,filsafat masih diajarkan di perguruan tinggi , dan kedua , filsuf terus menulis buku-buku tentang makna hubungan eksistensial kita dengan dunia. maka dari sini perlu disampaikan pula pertanyaan yang lebih tepat yang perlu ditangani oleh orang orang seperti hawking : filsafat yang mana atau yang bagaimana sudah mati?

Pertanyaan atas kematian filsafat tentu bukan hal baru ,Pada abad ke-18, Immanuel Kant mengemukakan ide -ide seperti “kategori pikiran ” dan “transendental apersepsi “di luar interogasi filosofis , sementara abad terakhir seperti bagaimana Martin Heidegger menyatakan bahwa filsafat berakhir dengan pembubaran ke dalam disiplin ilmu yang berbeda ( estetika, etika, logika ) dan ke ilmu tertentu lainya sepetti ( fisika, psikologi, biologi), dan mulai mengabaikan pertanyaan -pertanyaan mendasar yang menentukan hidup kita .

Baru- baru ini , almarhum Richard Rorty dan Ilmuwan teroitis asal prancis, Alain Badiou juga turut menyatakan hal yang sama Dalam bukunya “Infinite Thought” , Badiou mendefinisikan sekolah filsafat analitik.Dia menulis bahwa orientasi filsafat analitik, yang dimulai oleh Ludwig Wittgenstein
dan Rudolf Carnap dalam apa yang dikenal sebagai ” Lingkaran Wina” , yang bertujuan mencapai suatu filsafat yang ilmiah dan menghapus proposisi-proposisi yang tidak dapat dibuktikan menurut prinsip-prinsip ilmiah. Karena itulah, mereka menolak pernyataan-pernyataan spekulatif dan hanya menerima pengetahuan yang berdasar pada pengamatan yang obyektif.

Dengan cara ini , filsafat analitik menset ulang standar untuk apa yang sah untuk dikatakan dan apa yang tidak masuk akal .Dengan demikian, Badiou menyimpulkan bahwa filosofi ini tidak mencari kebenaran, tetapi lebih merupakan upaya yang sangat membatasi : yaitu , menganalisis-analisis kelogisan dan gramatikal ungkapan atau istilah dengan bahasa yang kompleks. Tugas filsafat analitik bukan tentang penciptaan ide tapi Penyusun aturan aturan makna linguistik. Inilah sebabnya mengapa Badiou berpendapat bahwa pada akhirnya,filsafat analitik adalah terapi , karena menyembuhkan kita “dari ilusi dan penyimpangan bahasa yang memisahkan kita , dengan mengisolasi apa yang tidak memiliki arti, dan dengan kembali ke aturan yang transparan untuk semua .

Setelah Rorty dan Badiou, kita cenderung untuk setuju dengan kritik Hawking karena dia sebenarnya sedang menyerang filsuf analitik,bukanlah Filasafat dalam pengertian yang sesunggungnya dimana hawking juga Sedang berfilsafat ketika melontarkan kritikanya tersebut, ini Adalah tentang filsuf analitik yang terjebak pada tindakan aturan ketak makna makna linguistik – seolah-olah ” tatanan simbolik” , mewakili semua kemungkinan untuk membangun makna. Mereka adalah orang yang masih saat ini mengubah filsafat menjadi budak ilmu- ilmu keras , terutama fisika dan perbudak metode mereka sendiri , yang mengabaikan eksistensial dan spontanitas kekuatan kreatif manusia “pemikiran” yang mampu menyederhanakan dan mempraktiskan Agar dapat diterima oleh semua kalangan yang merupakan landasan filsafat sejak awal.

Di era Seperti sekarang ini,Dengan demikian , Untuk menangkis anggapan hawking,maka Mereka yang percaya pada filsafat harus bersaing dengan ilmu pengetahuan untuk mengumumkan bahwa filsafat belum mati ,karna seperti kata Hawking, yang gagal dalam mengikuti perkembangan ilmiah Mutakhir .

Kesimpulanya bahwa , filsafat akan benar benar berakhir jika Filsuf modernis terus terlalu sibuk dengan masalahnya sendiri. Jika diarahkan ke pertanyaan apakah itu mati, apa itu kehidupan? dan mereka para filsuf khsusnya di era sekarang ini  mejawab dengan Apa yang sulit kita bisa mengerti, Padahal jelas bahwa  esensi filsafat mesti berfokus pada makna dengan penuh keterbukaan terhadap kebenaran walaupun bisa dikatakan itu adalah narsisme disiplin yang luas atau tidak dapat dihindari,dan filsafat yang macam begini tidak akan membutuhkan perhatian kita dan alan tersingkirkan dengan sendirinya oleh masyarakat pada umumnya, semua jauh sebih baik jika mereka mencari uang untuk tetap hidup daripada memikirkan apa yang Tidak bisa mereka pikirkan.

Dikutip dan diterjemahkan dari :
Hawking contra Philosophy oleh Christopher Norris,Profesor Filsafat di Universitas Cardiff.
Which philosophy is dead? Creston Davis,Profesor Filsafat di Institut Humaniora dan Ilmu Sosial di Skopje, Macdeonia
Is Philosophy Dead? oleh Peter Suber , Departemen Filsafat , Universitas Earlham , Richmond
_