image

Guns, Germs, and Steel: The Fates of Human Societies, diterbitkan pada tahun 1997, ditulis oleh Jared Diamond, profesor geografi dan fisiologi di UCLA dan ahli dalam antropologi dan biologi evolusi.Buku ini sangat populer dan memenangkan Hadiah Pulitzer untuk non-fiksi pada tahun 1998. Tujuan Profesor Diamond untuk buku ini adalah untuk menunjukkan pentingnya faktor geografis sejarah manusia,khususnya pada pengembangan masyarakat. Meskipun para mengkritik berpendapat bahwa bukti ilmiah yang disajikan Diamond adalah untuk semata mata membenarkan klaimnya, buku ini adalah narasi yang menarik bagi pengembangan berbagai kalangan masyarakat yang ada di dunia saat ini.

Ia menggunakan berbagai disiplin ilmu seperti linguistik, epidemiologi,antropologi, bersama dengan ceritanya tentang dampak perkembangan teknologi yang menghasilkan masyarakat yang secara psikologis berkembang ke arah yang mengkhawatirkan.

Selain filsafat, geografi dan agama adalah dua mata pelajaran yang saya bisa nikmati . Meskipun saya memiliki sedikit pengetahuan dasar tentang geografi, saya tidak memiliki kedalaman pengetahuan untuk mencoba mengevaluasi terhadap teori Diamond . Saya Memiliki pengetahuan terutama pada filsafat agama. namun,Diamond tidak menyentuh pada filsafat agama dalam bukunya,Sehingga tidak ada yang saya bisa kritik, Pemaparanya sebenarnya lebih berkaitan tentang  peran agama dan pemerintah sebagai faktor penting untuk pengembangan masyarakat ke arah yang secara emosional lebih baik. Saya tidak menemukan komentar-komentar apapun yang dibuat pada topik filsafat agama dalam bukunya tersebut, seperti misalnya tentang keberadaan Tuhan, masalah kejahatan, dan rasionalitas keyakinan agama. Karena tidak adanya ini (ini bukan kritik, hanya menunjukkan bahwa filsafat agama tidak ditawarkan dalam buku ini), saya hanya tertarik untuk mengetahui apa pandangan Diamond tentang agama itu sendiri, apakah ia mengangap rasionalkah atau tidak rasional? sampai pada ia menerbitkan buku berikutnya,yang terbit baru baru ini,judulnya The world until yesterday , dari buku ini mulai terlihat pemikiran diamond tentang agama.

Salah satu pilar argumensi dari apa yang disebut “The New Atheism” adalah bahwa agama dianggap sifatnya adalah bawaan entah karna lingkungan dan dari kelurga dimana seseorang dilahirkan ,Dalam bentuk yang paling kritis, pendukung new Ateisme  mengambil pendekatan toleransi non-iman dengan menyuarakan kebencian mereka untuk agama dengan jelas dan keras. Di jantung ini adalah gagasan bahwa keyakinan agama, mengingat apa yang kita ketahui sekarang, adalah tidak rasional. Ateis / pemikir bebas,berpegang pada ilmu pengetahuan yang sifatnya, materialisme empiris dan realistis telah sampai pada kesimpulan dan telah cukup bukti untuk mengatakan bahwa Doktrin doktrin agama tak lebih dari dongeng dogeng belaka. dengan demikian Jared Diamond  setuju bahwa penganut agama memang irasional.

Selain menekankan irasionalitas keyakinan agama, namun disisi lain Diamond juga menekankan bahwa keyakinan agama juga memiliki peran sentral dalam masyatakat, terutama peran emosionalnya. kembali ke teori proyeksi Sigmund Freud, banyak ateis yang berargumen bahwa keyakinan supernatural agama secara emosional masuk akal dan memuaskan.Keyakinan ateistik populer sebagian berasal dari teori Freud bahwa kepercayaan kepada Tuhan adalah ilusi yang berasal dari kebutuhan kekanak-kanakan manusia untuk kenyamanan dan ketentraman. Selain kebutuhan ini, beberapa ateis berpendapat bahwa pahala atas perbuatan baik, hukuman atas kejahatan, dan perasaan masyarakat bahwa agama menawarkan dan menghasilkan kepuasan emosional. Dengan kata lain, umat beragama percaya bahwa Tuhan itu ada dan dalam peristiwa supranatural dijelaskan dalam berbagai kitab suci karena keyakinan ini membawa kepuasan emosional dalam hidup mereka tetapi tidak didasarkan pada kebenaran klaim kebenaran arah mana keyakinan diarahkan. Tidak ada validitas intelektual agama,validitas hanya emosional karena kebutuhan batin manusia.

Masalahnya adalah bahwa serangan terhadap rasionalitas keyakinan agama dapat memotong dua arah. Beberapa teis berpendapat bahwa ateisme juga menawarkan kepuasan emosional dan itulah mengapa beberapa ateis mematuhi pandangan dunia ini. Telah dikemukakan bahwa kepercayaan, seperti tidak ada Tuhan dan tidak ada kehidupan setelah kematian,memungkinkan orang untuk hidup tanpa khawatir tentang penghakiman dan penghukuman. Tidak ada Tuhan untuk mengganggu atau mempermasalahkan(dengan seperangkat hukum Tuhan)  bagaimanapun cara Anda ingin hidup (sering dikemukakan oleh Christopher Hitchens). Hal ini memberikan kebebasan eksistensial bagi sebagian orang dan kepuasan emosional yang ditawarkan oleh ateisme mungkin cukup untuk beberapa Teis berlaih untuk menjadi seorang ateis. Sama seperti ateis bisa mengklaim, “Agama tidak benar, dan tidak berguna”,pemeluk agama juga sam,  dapat mengklaim hal yang sama tentang ateis. Argumen filosofis dan psikologis tentang “siapa yang benar” cenderung meyakinkan sebagian besar untuk alasan bukti yang sama untuk dan terhadap klaim kebenaran agama.

buku-buku Diamond  tersebut memang memiliki cakupan wawasan yang tinggi, tapi tidak terlihat lengkap, dalam perspektif Diamond tentang agama. Pandangannya bahwa agama adalah tidak rasional tentu pandangan populer dan biasanya disertai pula oleh dua pandangan lain:
1) agama tidak berguna.
2) agama  berbahaya. Meskipun diamond tidak menyatakan apakah ia percaya bahwa agama itu berbahaya.

Namun, popularitas dari keyakinan. bahwa itu “agama berbahaya” mungkin menurun. Julian Baggini, filsuf ateis asal ingris, berpendapat bahwa “agama berbahaya” karna memicu Intoleransi juga dipromosikan oleh ateis modern seperti Richard Dawkins, Sam Harris, dan Christopher Hitchens adalah tren tidak membantu . Selain itu, ia percaya bahwa ateis harus mendukung agama ketika mereka bekerja untuk mempromosikan toleransi ala ateis . dan bukan satu-satunya atheis yang merasa demikian. Penulis ateis,Douglas Murray, setelah duduk bersama Richard Dawkins pada sebuah debat terbuka,menyatakan bahwa, “Semakin saya mendengarkan Dawkins dan rekan-rekannya, semakin tampak jelas ketidak-beresan argumen mereka .”Agama digambarkan sebagai kekuatan Yang tak henti-hentinya memperbudak,seperti buah yamg tampak manis namun beracun. “, Bukankah itu anggapan anggapan yang semakin tidak rasional? Sebuah dogma baru telah muncul. Dan argumen logis telah terhenti dari mulut ateist.

*Sumber